Kelompok perempuan di Indonesia mendorong perdamaian dan kesejahteraan dengan dukungan kepala desa
Tanggal: 18 December 2025
Penulis: Inggita Notosusanto
Bima, Nusa Tenggara Barat – Kelompok perempuan di desa-desa di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan dengan membantu menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari perencanaan desa hingga kesiapsiagaan bencana dan pencegahan konflik.
Kelompok-kelompok ini didukung secara kuat oleh kepala desa mereka dan proyek WE NEXUS yang dijalankan oleh UN Women bersama organisasi masyarakat sipil Wahid Foundation dan La Rimpu. WE NEXUS berfokus pada isu-isu kemanusiaan, pembangunan, dan pembinaan perdamaian, dan didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA).
Keempat kepala desa ini membuktikan bahwa dengan dukungan, kelompok perempuan dapat membuat perubahan besar di desa-desa mereka.

Bambang AB, S.E., kepala Desa Samili, memuji kelompok perempuan Seruni.
“Saya selalu memberitahu masyarakat bahwa desa kita memiliki Seruni, dan mereka didukung oleh pejabat desa termasuk dukungan dana,” katanya.
Bambang menjelaskan bahwa Seruni membantu mempersiapkan diri menghadapi bencana dengan mengumpulkan data mengenai rumah tangga, dusun, dan keluarga rentan, termasuk keluarga miskin dan orang dengan disabilitas. Ia menambahkan bahwa Seruni telah membawa banyak manfaat lain bagi desa, termasuk dalam isu-isu disabilitas, lansia, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan terhadap anak. Ia juga mendorong Seruni, dengan bimbingan La Rimpu, untuk merencanakan kegiatan yang bertujuan menjaga perdamaian di Samili dan antara Samili dengan desa-desa tetangga.

Tidak jauh dari Samili terdapat Desa Roi, di mana kepala desa, Afifudin, S.Pd., sepenuhnya mendukung kelompok perempuan Rupeksi, yang merupakan singkatan dari Rumah Perempuan Beraksi.
“Pada suatu pertemuan, perwakilan Rupeksi, Nida, belum tiba untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes), jadi saya menunda pertemuan agar Nida bisa hadir dan program prioritas mereka dimasukkan ke dalam rencana,” katanya.
Dia mengatakan Rupeksi memulai proyek dengan mengundang pejabat desa dan warga untuk ikut membersihkan sampah, yang telah lama menimbulkan ketegangan dengan desa tetangga.
Afifudin mengatakan: “Mereka hadir untuk mendukung dan bahkan memimpin kegiatan di desa serta membantu saya dalam merevitalisasi berbagai kegiatan desa. Saya melihat semangat anggota Rupeksi, yang kemudian memotivasi saya untuk mendukung kegiatan mereka.”

Di selatan Roi terdapat Desa Ncera, di mana kepala desa, Idris, S.Pd., mendukung Sakola Ndai, sebuah sekolah untuk perempuan yang didirikan oleh kelompok perempuan yang termasuk aktivis perdamaian, Nurhaya.
“Sebagai pemerintah desa, kami memberikan dukungan penuh, seperti pendanaan dan koordinasi dengan pejabat pembuat kebijakan, termasuk bupati dan wakil bupati. Kami juga melibatkan perempuan dalam pertemuan untuk merumuskan RKPDes,” kata Idris.
Sakola Ndai tidak hanya membantu perempuan, menurut Idris.
“Misalnya, peserta Sakola Ndai terlibat dalam perawatan dan bimbingan anak-anak sementara orang tua mereka pergi ke ladang bawang selama tujuh bulan,” ujarnya. “Selama periode tersebut, hanya lansia dan anak-anak yang tinggal di desa.”
Bersama La Rimpu dan dengan dukungan dari pemerintah desa, Sakola Ndai juga membantu menyelesaikan masalah lingkungan dan rumah tangga, ujarnya.

Ir. Ahmadi, kepala Desa Rato, telah membantu desa tersebut meraih penghargaan atas karya para perempuan di Rato, termasuk Piagam Penghargaan Perempuan Inspiratif Kabupaten Bima dari Bupati Bima pada tahun 2023.
Ahmadi mengatakan program pemberdayaan perempuan di desa “telah melahirkan perempuan muda dengan keterampilan istimewa, dan mereka tidak takut untuk menyuarakan pendapat mereka.”
“Saya yakin bahwa akan sulit mencapai hasil maksimal dalam pembangunan desa tanpa keterlibatan perempuan,” katanya. “Saya selalu berpikir bagaimana perempuan dapat dilibatkan dalam pembangunan desa. Hal ini pernah dipertanyakan karena, di masa lalu, ada keyakinan di desa kami bahwa perempuan tidak mampu mengambil peran.”