Organisasi yang dipimpin orang muda mendorong lahirnya pemimpin muda di Indonesia
Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.
Author: Anjelica Yumiko Lianto Liang
JAKARTA, Indonesia - Orang muda saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin saling berkaitan, mulai dari kesetaraan gender dan keberagaman hingga kesehatan dan hak seksual dan reproduksi. Tantangan tersebut semakin kompleks akibat terbatasnya akses terhadap informasi yang akurat, minimnya ruang aman untuk belajar dan berdialog, serta stigma yang masih melekat pada berbagai isu yang kerap dianggap tabu.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, lima orang dengan latar belakang di bidang kemanusiaan, kesehatan masyarakat, dan advokasi hak orang muda mendirikan Aliansi Remaja Independen (ARI) pada 2012. Berdiri dengan semangat “dari orang muda, untuk orang muda”, ARI memberdayakan orang muda untuk menjadi agen perubahan sosial yang berkelanjutan, khususnya di bidang kesehatan dan kesejahteraan.
Bagi Zelika Putri, Wakil Koordinator Nasional ARI, organisasi ini lebih dari sekadar wadah bagi keterlibatan orang muda. ARI merupakan ruang belajar di mana setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk memimpin dan mengambil inisiatif.
“Kami selalu berupaya memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, baik mereka yang sudah lama menjadi anggota maupun yang baru bergabung. Karena di ARI, kami semua belajar bersama,” ujar Zelika.
ARI meyakini bahwa perubahan yang berkelanjutan harus dimulai dari tingkat akar rumput, dengan memastikan orang muda memiliki akses terhadap informasi yang akurat, ruang yang aman untuk berdialog, serta kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan.
Membangun Kepemimpinan melalui Pengalaman dan Tanggung Jawab
Salah satu inisiatif utama ARI adalah kegiatan edukasi bagi pelajar sekolah menengah di Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini memberikan informasi mengenai kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, kesetaraan gender, serta keberagaman, sekaligus membuka ruang untuk berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai topik yang masih dianggap sensitif oleh masyarakat. Bagi ARI, pendidikan tidak hanya berarti berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri orang muda untuk bertanya, berpikir kritis, dan memahami hak-hak mereka.
Setiap tahapan program ARI dirancang dan dipimpin oleh orang muda sendiri, mulai dari menyusun modul pembelajaran dan berkonsultasi dengan para ahli hingga memfasilitasi diskusi di ruang kelas. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap inisiatif tetap berangkat dari pengalaman hidup dan kebutuhan nyata komunitas orang muda.
“Di sini, kami benar-benar menerapkan gagasan bahwa orang muda dapat berpartisipasi dan mengambil tindakan untuk sesama orang muda,” ujar Zelika.
Sebagai pendidik dan konselor sebaya, ARI juga memberikan pendampingan dan dukungan secara berkelanjutan kepada para peserta. Selain itu, ARI memiliki komunitas alumni yang aktif mendukung proses pembelajaran antarteman sebaya, berbagi pengalaman, serta berkolaborasi dalam berbagai inisiatif berikutnya.
Membawa suara orang muda ke ranah kebijakan
Bagi ARI, pendidikan hanyalah langkah awal.
ARI juga terlibat dengan kementerian dan lembaga pemerintah, serta melakukan penelitian mengenai berbagai isu, termasuk kekerasan berbasis gender dan mutilasi genital perempuan. Melalui berbagai upaya tersebut, ARI berupaya memastikan agar kebijakan yang dibuat dapat lebih responsif terhadap realitas dan kebutuhan orang muda.
Mengatasi berbagai tantangan
Seperti banyak organisasi independen yang dipimpin orang muda, ARI menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan kegiatannya. Keterbatasan pendanaan dan sumber daya manusia memengaruhi kemampuan organisasi untuk mempertahankan sekaligus memperluas program-programnya. Di sisi lain, pembahasan mengenai kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta kesetaraan gender masih dianggap sensitif di sejumlah komunitas. Kondisi ini kerap menimbulkan penolakan dan membuat upaya advokasi menjadi lebih kompleks. Untuk menghadapi tantangan tersebut, ARI terus memperkuat kemitraan dengan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan kelompok masyarakat.
Ke depannya, ARI berharap semakin banyak orang muda yang tidak hanya berpartisipasi dalam berbagai program, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di komunitas mereka masing-masing.
“Pada akhirnya, kita semua memiliki harapan yang sama—mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan setara, di mana kesetaraan gender benar-benar menjadi kenyataan,” kata Zelika.