A youth-led organization nurtures youth leaders in Indonesia

Date:

 

English | Bahasa Indonesia

To mark International Youth Day 2026, UN Women Indonesia is profiling youth organizations that are part of the UN Women Indonesia network.

Author: Anjelica Yumiko Lianto Liang

Young people march outdoors holding signs for International Youth Day. Orang muda berjalan di luar ruangan sambil membawa poster Hari Orang Muda Internasional.
Members of the civil society group Aliansi Remaja Independen (Independent Young People Alliance) march in Jakarta, Indonesia on International Youth Day on 12 August 2018. Photo courtesy of Aliansi Remaja Independen

JAKARTA, Indonesia - Young people today face increasingly interconnected social challenges, ranging from gender equality and diversity to sexual and reproductive health and rights. These challenges are exacerbated by limited access to accurate information, a lack of safe spaces for learning and dialogue, and persistent stigma surrounding issues that are often considered taboo.

To address these gaps, five individuals with backgrounds in humanitarian work, public health, and youth rights advocacy established Aliansi Remaja Independen (ARI, Independent Young People Alliance) in 2012. Founded “by youth, for youth”, ARI empowers youth to become active agents of sustainable social change, particularly in health and well-being.

For Zelika Putri, Deputy National Coordinator of ARI, the organization is more than a platform for youth engagement. It is a learning space where everyone has an equal opportunity to lead and take initiative.

“We always strive to ensure that everyone has the opportunity to become a leader, whether they are long-time members or newcomers, because at ARI we are all learning together,” Zelika said.

ARI believes that sustainable transformation must begin at the grass-roots level by guaranteeing that youths can access accurate information, safe platforms for dialogue, and opportunities to build essential skills.

Building leadership by taking on responsibility

A key initiative is the organization’s outreach for secondary school students in Jakarta and its surroundings. The sessions provide information on sexual and reproductive health and rights, gender equality, and diversity, while creating opportunities for open discussions on topics that are still widely considered sensitive. For ARI, education goes beyond sharing knowledge. It is about building youth's confidence to ask questions, think critically, and understand their rights.

Every stage of the ARI programme is designed and led by youths themselves, from developing learning modules and consulting with experts to facilitating classroom discussions. This ensures that initiatives remain rooted in the lived experiences and genuine needs of the youth community.

"Here we truly put into practice the idea that youth can participate and take action for their peers," Zelika said.

With ARI as peer educator and counselor, participants receive continuous mentoring and support. And ARI has an active alumni community that offers peer-to-peer learning, experience sharing, and collaborative action on future initiatives.

Bringing youth voices to the policy table

For ARI, education is only the first step.

ARI also engages with government ministries and public institutions, while also doing research on issues such as gender-based violence and female genital mutilation. Through these efforts, the organization seeks to ensure that policies are more responsive to the realities and needs of youth.

Overcoming challenges

Like many independent youth-led organizations, ARI faces challenges in sustaining its work. Limited funding and human resources affect its capacity to maintain and expand its programmes. At the same time, discussions around sexual and reproductive health and rights, as well as gender equality, remain sensitive in some communities, often creating resistance that makes advocacy efforts more complex. To address these challenges, ARI continues to strengthen partnerships with government institutions, civil society organizations, development partners, and community groups.

Looking ahead, ARI hopes to see more youth move beyond participating in programmes to becoming change-makers within their own communities.

"Ultimately, we all share the same hope—to create a more inclusive, just, and equal society where gender equality becomes a reality," Zelika said. 

 

English | Bahasa Indonesia

Organisasi yang dipimpin orang muda mendorong lahirnya pemimpin muda di Indonesia

Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.

Author: Anjelica Yumiko Lianto Liang

Young people march outdoors holding signs for International Youth Day. Orang muda berjalan di luar ruangan sambil membawa poster Hari Orang Muda Internasional.
Anggota Aliansi Remaja Independen (ARI) melakukan aksi di Jakarta, Indonesia, pada peringatan Hari Pemuda Internasional, 21 Agustus 2018. Foto: Aliansi Remaja Independen.

JAKARTA, Indonesia - Orang muda saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin saling berkaitan, mulai dari kesetaraan gender dan keberagaman hingga kesehatan dan hak seksual dan reproduksi. Tantangan tersebut semakin kompleks akibat terbatasnya akses terhadap informasi yang akurat, minimnya ruang aman untuk belajar dan berdialog, serta stigma yang masih melekat pada berbagai isu yang kerap dianggap tabu.

Untuk menjawab kesenjangan tersebut, lima orang dengan latar belakang di bidang kemanusiaan, kesehatan masyarakat, dan advokasi hak orang muda mendirikan Aliansi Remaja Independen (ARI) pada 2012. Berdiri dengan semangat “dari orang muda, untuk orang muda”, ARI memberdayakan orang muda untuk menjadi agen perubahan sosial yang berkelanjutan, khususnya di bidang kesehatan dan kesejahteraan.

Bagi Zelika Putri, Wakil Koordinator Nasional ARI, organisasi ini lebih dari sekadar wadah bagi keterlibatan orang muda. ARI merupakan ruang belajar di mana setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk memimpin dan mengambil inisiatif.

“Kami selalu berupaya memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, baik mereka yang sudah lama menjadi anggota maupun yang baru bergabung. Karena di ARI, kami semua belajar bersama,” ujar Zelika.

ARI meyakini bahwa perubahan yang berkelanjutan harus dimulai dari tingkat akar rumput, dengan memastikan orang muda memiliki akses terhadap informasi yang akurat, ruang yang aman untuk berdialog, serta kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan.

Membangun Kepemimpinan melalui Pengalaman dan Tanggung Jawab

Salah satu inisiatif utama ARI adalah kegiatan edukasi bagi pelajar sekolah menengah di Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini memberikan informasi mengenai kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, kesetaraan gender, serta keberagaman, sekaligus membuka ruang untuk berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai topik yang masih dianggap sensitif oleh masyarakat. Bagi ARI, pendidikan tidak hanya berarti berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri orang muda untuk bertanya, berpikir kritis, dan memahami hak-hak mereka.

Setiap tahapan program ARI dirancang dan dipimpin oleh orang muda sendiri, mulai dari menyusun modul pembelajaran dan berkonsultasi dengan para ahli hingga memfasilitasi diskusi di ruang kelas. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap inisiatif tetap berangkat dari pengalaman hidup dan kebutuhan nyata komunitas orang muda.

“Di sini, kami benar-benar menerapkan gagasan bahwa orang muda dapat berpartisipasi dan mengambil tindakan untuk sesama orang muda,” ujar Zelika.

Sebagai pendidik dan konselor sebaya, ARI juga memberikan pendampingan dan dukungan secara berkelanjutan kepada para peserta. Selain itu, ARI memiliki komunitas alumni yang aktif mendukung proses pembelajaran antarteman sebaya, berbagi pengalaman, serta berkolaborasi dalam berbagai inisiatif berikutnya.

Membawa suara orang muda ke ranah kebijakan

Bagi ARI, pendidikan hanyalah langkah awal.

ARI juga terlibat dengan kementerian dan lembaga pemerintah, serta melakukan penelitian mengenai berbagai isu, termasuk kekerasan berbasis gender dan mutilasi genital perempuan. Melalui berbagai upaya tersebut, ARI berupaya memastikan agar kebijakan yang dibuat dapat lebih responsif terhadap realitas dan kebutuhan orang muda.

Mengatasi berbagai tantangan

Seperti banyak organisasi independen yang dipimpin orang muda, ARI menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan kegiatannya. Keterbatasan pendanaan dan sumber daya manusia memengaruhi kemampuan organisasi untuk mempertahankan sekaligus memperluas program-programnya. Di sisi lain, pembahasan mengenai kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta kesetaraan gender masih dianggap sensitif di sejumlah komunitas. Kondisi ini kerap menimbulkan penolakan dan membuat upaya advokasi menjadi lebih kompleks. Untuk menghadapi tantangan tersebut, ARI terus memperkuat kemitraan dengan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan kelompok masyarakat.

Ke depannya, ARI berharap semakin banyak orang muda yang tidak hanya berpartisipasi dalam berbagai program, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di komunitas mereka masing-masing.

“Pada akhirnya, kita semua memiliki harapan yang sama—mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan setara, di mana kesetaraan gender benar-benar menjadi kenyataan,” kata Zelika.