Di Tengah Menyusutnya Ruang Sipil, Bagaimana Organisasi Orang Muda Tetap Bertahan?
Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.
Author: Ryan Richard Rihi
JAKARTA, Indonesia - Kebebasan berekspresi dalam ruang sipil tengah menyusut. Studi terbaru Yayasan Partisipasi Muda menyebutkan kaum muda Indonesia tengah menghadapi peningkatan ketakutan untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat, kurangnya perlindungan, intimidasi dan kekerasan saat berkumpul, hambatan dalam keterlibatan sipil, serta diskriminasi berdasarkan gender, etnis, dan agama.
Di tengah situasi ini, Lingkar Studi Feminis (LSF) tetap bertahan. Organisasi yang dipimpin orang muda ini dibentuk sejak 2019 sebagai ruang alternatif dari ruang-ruang maskulin yang mendominasi. LSF pada awalnya diinisiasi sebagai sirkel diskusi buku feminis, tetapi kini telah menyelenggarakan berbagai program dan aktivitas.
Menavigasi Aktivisme Orang Muda di Tengah Menyusutnya Ruang Sipil
LSF telah membantu banyak orang muda mempelajari advokasi berbasis gender, anggaran responsif gender, teori hukum feminis, dan pendampingan hukum.
Organisasi ini telah terlibat dalam advokasi dan kampanye, baik di tingkat daerah maupun nasional, dan turut mendorong lahirnya sejumlah kebijakan, seperti standar operasional prosedur terintegrasi di instansi pemerintah yang menangani kasus kekerasan seksual di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. LSF juga turut mendampingi kasus-kasus hukum yang melibatkan kekerasan seksual dan HIV/AIDS.
Untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan dan mengarusutamakan agenda feminis, LSF melakukan pendampingan, pendidikan politik, dan pelatihan bagi perempuan di kampus-kampus, serta mendorong perempuan untuk maju dan mengisi peran-peran kepemimpinan di organisasi kampus.
"Sisterhood sesama perempuan itu kan juga akhirnya membuat kita tuh jadi lebih percaya diri," kata Eva Nurcahyani, salah satu pendiri Lingkar Studi Feminis, dalam wawancara dengan UN Women.
Meski demikian, sebagian besar anggota organisasi ini adalah mahasiswa, dan karena fokus pada studi, rencana karier, maupun persoalan pribadi kerap menjadi tantangan bagi partisipasi aktif yang berkelanjutan.
LSF juga menghadapi penolakan dari kelompok-kelompok mahasiswa. Pada 2020, salah satu kelompok tersebut membubarkan sesi diskusi LSF, dengan tuduhan bahwa organisasi ini "membenci laki-laki" dan mengajarkan perempuan untuk melawan. Merespons hal ini, LSF berupaya mengidentifikasi aktor-aktor yang bisa menjadi sekutu, termasuk dosen dan organisasi perempuan.
Memastikan Keberlanjutan Organisasi dan Rencana ke Depan
Lingkar Studi Feminis rutin melakukan peningkatan kapasitas dan penyadartahuan isu feminis, pendidikan politik bagi anggota, serta kemitraan aktif dengan organisasi perempuan lainnya, tidak hanya untuk mendorong internalisasi nilai-nilai feminis oleh para anggota, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan gerakan.
Organisasi ini berupaya memastikan sumber pendanaan, dengan tetap menjaga agar tidak bergantung pada dan dikooptasi oleh donor.
"Ada yang skeptis sama donor, … kayak nanti kita basisnya donor doang. Makanya kita selalu putar metodenya, agar ketika donor pun tidak ada, kita tetap jalan. Buktinya, kita juga punya kas tiap bulan untuk terus jalan," kata Eva.