Amid shrinking civic space, how do youth organizations in Indonesia keep going?

Date:

 

English | Bahasa Indonesia

To mark International Youth Day 2026, UN Women Indonesia is profiling youth organizations that are part of the UN Women Indonesia network.

Author: Ryan Richard Rihi

Jakarta, Indonesia — Freedom of expression in civic space is shrinking. A recent study by Yayasan Partisipasi Muda (Youth Participation Foundation) says Indonesian youth are facing a growing fear of expressing opinions, lack of protection, intimidation and violence when gathering, barriers to civic engagement, and discrimination based on gender, ethnicity and religion.

In this environment, Lingkar Studi Feminis (Feminist Study Circle) has managed to hold its ground. The youth-led organization was founded in 2019 as an alternative to male-dominated spaces. It began as a feminist book discussion circle but now runs a range of programmes and activities.

Commemorative photo from a book launching. Foto peluncuran buku.
Lingkar Studi Feminis (Feminist Study Circle) activists submit proposed standard operating procedures on preventing and responding to sexual violence to the Tangerang Regency Government in Tangerang District, Indonesia on 22 August 2025. Photo: Courtesy of Lingkar Studi Feminis.

Navigating youth activism in a shrinking civic space

Lingkar Studi Feminis has helped many young people learn about gender-based advocacy, gender-responsive budgeting, feminist legal theory, and legal aid.

The organization has taken part in advocacy and campaigns, both at the regional and national levels, and has helped push through policies such as integrated standard operating procedures in state agencies that handle cases of sexual violence in South Tangerang City and Tangerang Regency. It has also helped in legal cases involving sexual violence and HIV/AIDS.

To boost women's political participation and mainstream the feminist agenda, Lingkar Studi Feminis does mentoring, political education and training for women on school campuses, and encourages women to take on leadership roles in campus organizations.

“The sense of sisterhood among women has ultimately made us more confident,” Eva Nurcahyani, one of Lingkar Studi Feminis founders, said in an interview with UN Women.

Gathering of people at a pavillion. Kumpulan orang di pendopo.
People gather at a Young Women's Political Education session led by Lingkar Studi Feminis (Feminist Study Circle) activists on Situ Gintung Island. Indonesia. The sessions were held on 12-15 June 2025. Photo: Courtesy of Lingkar Studi Feminis.

However, most of the organization’s members are university students, and their focus on studies, career plans and personal matters often pose challenges to sustained, active participation.

Lingkar Studi Feminis also has faced opposition from maculinist student groups. In 2020, one such group broke up a Lingkar Studi Feminis discussion session, claiming the organization “hates men” and teaches women to be defiant. In response, Lingkar Studi Feminis tries to identify potential allies, including lecturers and women's organizations.

Ensuring organizational sustainability and future plans

Lingkar Studi Feminis does regular training and awareness-raising on feminist issues and political education and actively partner with other women's organizations, not only to help inculcate feminist values but also to sustain the movement.

The organization seeks to secure funding while avoiding dependence on and co-optation by donors.

"Some people are skeptical about donors ... like, are we just going to end up donor-dependent? That's why we keep rotating our methods, so that even without donors, we can keep going. Proof is, we also have monthly funds set aside to keep operating," Nurcahyani said.

 

 

English | Bahasa Indonesia

Di Tengah Menyusutnya Ruang Sipil, Bagaimana Organisasi Orang Muda Tetap Bertahan?

Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.

Author: Ryan Richard Rihi

JAKARTA, Indonesia - Kebebasan berekspresi dalam ruang sipil tengah menyusut. Studi terbaru Yayasan Partisipasi Muda menyebutkan kaum muda Indonesia tengah menghadapi peningkatan ketakutan untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat, kurangnya perlindungan, intimidasi dan kekerasan saat berkumpul, hambatan dalam keterlibatan sipil, serta diskriminasi berdasarkan gender, etnis, dan agama.

Di tengah situasi ini, Lingkar Studi Feminis (LSF) tetap bertahan. Organisasi yang dipimpin orang muda ini dibentuk sejak 2019 sebagai ruang alternatif dari ruang-ruang maskulin yang mendominasi. LSF pada awalnya diinisiasi sebagai sirkel diskusi buku feminis, tetapi kini telah menyelenggarakan berbagai program dan aktivitas.

Commemorative photo from a book launching. Foto peluncuran buku.
Lingkar Studi Feminis menyerahkan usulan standar operasional prosedur (SOP) pencegahan dan penanganan kekerasan seksual kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang, Indonesia, pada 22 Agustus 2025. Foto: Lingkar Studi Feminis.

 

Menavigasi Aktivisme Orang Muda di Tengah Menyusutnya Ruang Sipil

LSF telah membantu banyak orang muda mempelajari advokasi berbasis gender, anggaran responsif gender, teori hukum feminis, dan pendampingan hukum.

Organisasi ini telah terlibat dalam advokasi dan kampanye, baik di tingkat daerah maupun nasional, dan turut mendorong lahirnya sejumlah kebijakan, seperti standar operasional prosedur terintegrasi di instansi pemerintah yang menangani kasus kekerasan seksual di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. LSF juga turut mendampingi kasus-kasus hukum yang melibatkan kekerasan seksual dan HIV/AIDS.

Untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan dan mengarusutamakan agenda feminis, LSF melakukan pendampingan, pendidikan politik, dan pelatihan bagi perempuan di kampus-kampus, serta mendorong perempuan untuk maju dan mengisi peran-peran kepemimpinan di organisasi kampus.

"Sisterhood sesama perempuan itu kan juga akhirnya membuat kita tuh jadi lebih percaya diri," kata Eva Nurcahyani, salah satu pendiri Lingkar Studi Feminis, dalam wawancara dengan UN Women.

Gathering of people at a pavillion. Kumpulan orang di pendopo.
Orang muda berkumpul dalam sesi Pendidikan Politik Perempuan Muda yang dipandu aktivis Lingkar Studi Feminis di Pulau Situ Gintung, Indonesia. Sesi ini berlangsung pada 12-15 Juni 2025. Foto: Lingkar Studi Feminis.

 

Meski demikian, sebagian besar anggota organisasi ini adalah mahasiswa, dan karena fokus pada studi, rencana karier, maupun persoalan pribadi kerap menjadi tantangan bagi partisipasi aktif yang berkelanjutan.

LSF juga menghadapi penolakan dari kelompok-kelompok mahasiswa. Pada 2020, salah satu kelompok tersebut membubarkan sesi diskusi LSF, dengan tuduhan bahwa organisasi ini "membenci laki-laki" dan mengajarkan perempuan untuk melawan. Merespons hal ini, LSF berupaya mengidentifikasi aktor-aktor yang bisa menjadi sekutu, termasuk dosen dan organisasi perempuan.

 

Memastikan Keberlanjutan Organisasi dan Rencana ke Depan

Lingkar Studi Feminis rutin melakukan peningkatan kapasitas dan penyadartahuan isu feminis, pendidikan politik bagi anggota, serta kemitraan aktif dengan organisasi perempuan lainnya, tidak hanya untuk mendorong internalisasi nilai-nilai feminis oleh para anggota, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan gerakan.

Organisasi ini berupaya memastikan sumber pendanaan, dengan tetap menjaga agar tidak bergantung pada dan dikooptasi oleh donor.

"Ada yang skeptis sama donor, … kayak nanti kita basisnya donor doang. Makanya kita selalu putar metodenya, agar ketika donor pun tidak ada, kita tetap jalan. Buktinya, kita juga punya kas tiap bulan untuk terus jalan," kata Eva.