Building a survivor-led movement for women’s leadership in Indonesia

Date:

 

English | Bahasa Indonesia

To mark International Youth Day 2026, UN Women Indonesia is profiling youth organizations that are part of the UN Women Indonesia network.

Author: Bintang Aulia

JAKARTA, Indonesia - When seven young women founded Lowe Wini in 2019, they did not have an office, a formal organizational structure or significant funding. But they had a shared conviction that women survivors of violence needed a space where they could be heard, supported and empowered.

Lowe Wini, from the Sabu language in East Nusa Tenggara Province, means “many seeds” -- that growing together is better than growing alone.

“Our goal is for this small initiative to reach more survivors,” said Linda Tagie, co-founder of Lowe Wini, in an interview with UN Women, "We believe that an initiative born from the lived experiences of survivors is a valid knowledge and a political power to challenge patriarchy, strengthen solidarity, and drive changes towards gender equality."
 

A group of young women hold signs calling to end violence against women and girls. Sekelompok perempuan muda memegang papan seruan untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
The seven founders of community group Lowe Wini hold placards on ending violence against women at the Lowe Wini Festival in July 2018, East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Photo courtesy of Lowe Wini

Creating space for survivors to rebuild

Lowe Wini emerged from the founders' experiences as women navigating gender inequality and, in some cases, surviving violence themselves. Their vision is simple: survivors should be recognized not only for what they have endured, but for the leadership and change they can create.

With 32 active volunteer members across East Nusa Tenggara, Lowe Wini encourages survivors to design programmes, contribute ideas, and implement activities to gain a sense of responsibility and leadership. Many also support other survivors through mentoring, advocacy and accompaniment. Some become leaders in their communities and organizations.

Helping students

One of Lowe Wini's most impactful initiatives began as outreach to schools on sexual and reproductive health and reproductive rights and violence against women. In 2023, it evolved into Support Our Sister (SOS), a programme to help girls who survived violence return to school, especially those experiencing pregnancy due to sexual violence. Lowe Wini encourages families to support the girls’ education and works with schools to create safer learning environments. It also works with students on peer support and on building safer spaces for survivors of violence.

Four young women sit outdoors clapping during a group activity with one person holding an opened laptop on her lap. Empat perempuan muda duduk di luar ruangan sambil bertepuk tangan dalam kegiatan kelompok, satu orang memangku laptop dengan layar terbuka.
Members of the community group Lowe Wini teach sexual and reproductive health and reproductive rights to girls in Kolhua, East Nusa Tenggara Province, Indonesia in February 2025. Photo courtesy of Lowe Wini

Further extending a helping hand

As Lowe Wini grew, its work expanded into public campaigning, research and advocacy. The organization uses social media campaigns in Kupang Malay and other local languages to make conversations on gender equality more accessible to communities across East Nusa Tenggara

During the 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence campaign in 2021, Lowe Wini held a competition with books as prizes for Instagram accounts that consistently post about ending gender-based violence. The campaign attracted more than 700 posts in a variety of regional languages.

Taking “small steps” for change

For Lowe Wini, patriarchal norms remain a challenge, and members are sometimes criticized for speaking about gender equality and violence. Survivors who share their experiences continue to face stigma and victim-blaming.

Resource constraints present another challenge. Lowe Wini still operates on a volunteer basis, making it difficult to retain members. It also does not yet have a permanent community space.

Lowe Wini persists by strengthening member solidarity and working with other organizations to support survivors of violence.

A group of people sit outdoors on a blue mat weaving leaf into ketupat. Sekelompok orang duduk di luar ruangan di atas tikar biru sambil menganyam daun menjadi ketupat
Members of the community group Lowe Wini learn farming and weaving from local women in Kolhua, in East Nusa Tengarra Province, Indonesia. February 2023. Photo courtesy of Lowe Wini

"We do not have to become big first to start creating change,” Tagie tells fellow youth organizations and communities, “Small steps, taken consistently, can create meaningful change.”

 

English | Bahasa Indonesia

Membangun gerakan dari penyintas kekerasan untuk kepemimpinan perempuan di Indonesia

Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.

Author: Bintang Aulia

JAKARTA, Indonesia - Ketika tujuh perempuan muda mendirikan Lowe Wini pada 2019, mereka tidak memiliki kantor, struktur organisasi formal, atau pendanaan yang besar. Namun mereka memiliki keyakinan bersama bahwa perempuan penyintas kekerasan membutuhkan ruang tempat mereka dapat didengar, didukung, dan berdaya.

‘Lowe Wini’ berasal dari bahasa Sabu di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berarti ‘banyak bibit’ – dengan makna bahwa tumbuh bersama lebih baik dibanding tumbuh sendiri.

"Tujuannya adalah supaya inisiatif yang kecil ini bisa menjangkau teman-teman penyintas yang lebih banyak,” ungkap Linda Tagie, co-founder Lowe Wini saat diwawancarai UN Women, “Kami percaya bahwa ide atau inisiatif yang lahir dari pengalaman faktual penyintas itu akan menciptakan gelombang perubahan yang lebih besar."

 

A group of young women hold signs calling to end violence against women and girls. Sekelompok perempuan muda memegang papan seruan untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Tujuh pendiri komunitas Lowe Wini memegang papan pesan terkait penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Festival Lowe Wini bulan Juli 2018, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Photo courtesy of Lowe Wini

Menciptakan ruang bagi penyintas untuk bangkit

Lowe Wini lahir dari pengalaman para pendirinya sebagai perempuan yang menghadapi ketimpangan gender dan, dalam beberapa kasus, juga mengalami kekerasan. Visi Lowe Wini sederhana: penyintas harus diakui bukan hanya atas apa yang telah mereka lalui, tetapi juga atas kepemimpinan dan perubahan yang dapat mereka ciptakan.

Dengan 32 anggota relawan aktif di berbagai wilayah NTT, Lowe Wini mendorong para anggotanya untuk merancang program, menyumbangkan ide, dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan agar mereka dapat membangun rasa tanggung jawab dan kepemimpinan. Banyak dari mereka juga mendukung penyintas lainnya melalui mentoring, advokasi, dan pengawalan kasus. Sebagian anggota kemudian menjadi pemimpin di komunitas dan organisasi mereka.

Membantu para murid di sekolah

Salah satu inisiatif Lowe Wini yang paling berdampak bermula sebagai kegiatan penjangkauan ke sekolah tentang kesehatan seksual dan reproduksi dan hak-hak reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. Di tahun 2023, kegiatan tersebut berkembang menjadi Support Our Sister (SOS), sebuah program yang berfokus membantu anak perempuan penyintas kekerasan untuk kembali bersekolah, terutama bagi penyintas yang mengalami kehamilan tak direncanakan akibat kekerasan seksual.

Lowe Wini mendorong keluarga untuk mendukung pendidikan anak perempuan dan bekerja sama dengan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman. Lowe Wini juga bekerja dengan para murid dalam hal dukungan teman sebaya dan membangun ruang aman bagi penyintas kekerasan.

Four young women sit outdoors clapping during a group activity with one person holding an opened laptop on her lap. Empat perempuan muda duduk di luar ruangan sambil bertepuk tangan dalam kegiatan kelompok, satu orang memangku laptop dengan layar terbuka.
Anggota komunitas Lowe Wini mengajarkan tentang kesehatan reproduksi dan reproduksi dan hak-hak reproduksi bagi anak-anak perempuan di Kolhua, NTT, Indonesia, di bulan Februari 2025. Photo courtesy of Lowe Wini

Terus mengulurkan bantuan

Seiring berkembangnya Lowe Wini, kerja-kerja organisasi meluas ke kampanye publik, riset, dan advokasi. Lowe Wini menggunakan kampanye media sosial dalam bahasa Melayu Kupang dan bahasa-bahasa lokal lainnya agar percakapan tentang kesetaraan gender menjadi lebih mudah diakses oleh komunitas di NTT.

Pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 2021, Lowe Wini mengadakan kompetisi dengan hadiah buku untuk akun Instagram yang konsisten posting tentang penghapusan kekerasan berbasis gender. Kampanye tersebut menarik lebih dari 700 post dengan ragam bahasa daerah NTT.

Mengambil “langkah kecil” untuk perubahan

Bagi Lowe Wini, norma sosial yang patriarkis masih menjadi tantangan, dan anggota komunitas terkadang dikritik karena bersuara tentang kesetaraan gender dan kekerasan. Korban yang berbagi pengalaman pun terus menghadapi stigma dan victim-blaming.

Keterbatasan sumber daya juga menjadi tantangan lainnya. Lowe Wini masih beroperasi dalam kapasitas sukarela sehingga sulit mempertahankan anggota. Selain itu, Lowe Wini juga belum mempunyai ruang komunitas yang permanen.

Lowe Wini terus bertahan dengan mempererat solidaritas anggota hingga bekerja sama dengan organisasi penyedia layanan untuk memperkuat upaya pendampingan penyintas kekerasan.

A group of people sit outdoors on a blue mat weaving leaf into ketupat. Sekelompok orang duduk di luar ruangan di atas tikar biru sambil menganyam daun menjadi ketupat
Anggota komunitas Lowe Wini belajar menanam, menenun dan menganyam dari perempuan di komunitas lokal Kolhua, NTT, Indonesia. Februari 2023. Photo courtesy of Lowe Wini

“Kita tidak harus menjadi (organisasi) besar dulu untuk memulai perubahan.” pesan Linda untuk sesama organisasi dan komunitas muda, “Langkah kecil yang diambil kawan-kawan, apalagi yang dikerjakan secara konsisten, bisa menciptakan perubahan yang bermakna.”