Membangun gerakan dari penyintas kekerasan untuk kepemimpinan perempuan di Indonesia
Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.
Author: Bintang Aulia
JAKARTA, Indonesia - Ketika tujuh perempuan muda mendirikan Lowe Wini pada 2019, mereka tidak memiliki kantor, struktur organisasi formal, atau pendanaan yang besar. Namun mereka memiliki keyakinan bersama bahwa perempuan penyintas kekerasan membutuhkan ruang tempat mereka dapat didengar, didukung, dan berdaya.
‘Lowe Wini’ berasal dari bahasa Sabu di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berarti ‘banyak bibit’ – dengan makna bahwa tumbuh bersama lebih baik dibanding tumbuh sendiri.
"Tujuannya adalah supaya inisiatif yang kecil ini bisa menjangkau teman-teman penyintas yang lebih banyak,” ungkap Linda Tagie, co-founder Lowe Wini saat diwawancarai UN Women, “Kami percaya bahwa ide atau inisiatif yang lahir dari pengalaman faktual penyintas itu akan menciptakan gelombang perubahan yang lebih besar."
Menciptakan ruang bagi penyintas untuk bangkit
Lowe Wini lahir dari pengalaman para pendirinya sebagai perempuan yang menghadapi ketimpangan gender dan, dalam beberapa kasus, juga mengalami kekerasan. Visi Lowe Wini sederhana: penyintas harus diakui bukan hanya atas apa yang telah mereka lalui, tetapi juga atas kepemimpinan dan perubahan yang dapat mereka ciptakan.
Dengan 32 anggota relawan aktif di berbagai wilayah NTT, Lowe Wini mendorong para anggotanya untuk merancang program, menyumbangkan ide, dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan agar mereka dapat membangun rasa tanggung jawab dan kepemimpinan. Banyak dari mereka juga mendukung penyintas lainnya melalui mentoring, advokasi, dan pengawalan kasus. Sebagian anggota kemudian menjadi pemimpin di komunitas dan organisasi mereka.
Membantu para murid di sekolah
Salah satu inisiatif Lowe Wini yang paling berdampak bermula sebagai kegiatan penjangkauan ke sekolah tentang kesehatan seksual dan reproduksi dan hak-hak reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. Di tahun 2023, kegiatan tersebut berkembang menjadi Support Our Sister (SOS), sebuah program yang berfokus membantu anak perempuan penyintas kekerasan untuk kembali bersekolah, terutama bagi penyintas yang mengalami kehamilan tak direncanakan akibat kekerasan seksual.
Lowe Wini mendorong keluarga untuk mendukung pendidikan anak perempuan dan bekerja sama dengan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman. Lowe Wini juga bekerja dengan para murid dalam hal dukungan teman sebaya dan membangun ruang aman bagi penyintas kekerasan.
Terus mengulurkan bantuan
Seiring berkembangnya Lowe Wini, kerja-kerja organisasi meluas ke kampanye publik, riset, dan advokasi. Lowe Wini menggunakan kampanye media sosial dalam bahasa Melayu Kupang dan bahasa-bahasa lokal lainnya agar percakapan tentang kesetaraan gender menjadi lebih mudah diakses oleh komunitas di NTT.
Pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 2021, Lowe Wini mengadakan kompetisi dengan hadiah buku untuk akun Instagram yang konsisten posting tentang penghapusan kekerasan berbasis gender. Kampanye tersebut menarik lebih dari 700 post dengan ragam bahasa daerah NTT.
Mengambil “langkah kecil” untuk perubahan
Bagi Lowe Wini, norma sosial yang patriarkis masih menjadi tantangan, dan anggota komunitas terkadang dikritik karena bersuara tentang kesetaraan gender dan kekerasan. Korban yang berbagi pengalaman pun terus menghadapi stigma dan victim-blaming.
Keterbatasan sumber daya juga menjadi tantangan lainnya. Lowe Wini masih beroperasi dalam kapasitas sukarela sehingga sulit mempertahankan anggota. Selain itu, Lowe Wini juga belum mempunyai ruang komunitas yang permanen.
Lowe Wini terus bertahan dengan mempererat solidaritas anggota hingga bekerja sama dengan organisasi penyedia layanan untuk memperkuat upaya pendampingan penyintas kekerasan.
“Kita tidak harus menjadi (organisasi) besar dulu untuk memulai perubahan.” pesan Linda untuk sesama organisasi dan komunitas muda, “Langkah kecil yang diambil kawan-kawan, apalagi yang dikerjakan secara konsisten, bisa menciptakan perubahan yang bermakna.”