Young women join in collective activism in Indonesia

Date:

 

English | Bahasa Indonesia

To mark International Youth Day 2026, UN Women Indonesia is profiling youth organizations that are part of the UN Women Indonesia network.

Author: Radhiska Anggiana

A group of women poses in a wooden pavilion while displaying colorful hand-drawn portraits. Sekelompok perempuan berpose di pendopo kayu sambil menunjukkan potret warna-warni hasil karya mereka.
Participants share their illustration from a session on intersectionality in collective action at Camping Rimpang Alit Vol. III, a space for young women to deepen their understanding of gender equality and strengthen leadership skills, held in Kopeng, Salatiga, on 20 June 2026. Photo courtesy of Bara Puan.

JAKARTA, Indonesia - In front of the government building in Semarang, Central Java, Indonesia, a tempeh frying in a pan sits next to a stack of protest flyers. A university student chops vegetables while a journalist stacks food packaging. This is not a cooking class; it is a protest demonstration.

"Demonstration is usually associated with shouting from the top of a car. But then we started thinking about what kind of diversification of action we could actually do," said Annisa Paramitha (Tata), a 21-year-old international relations student and action coordinator of Bara Puan, a young women’s collective in Semarang.

These diverse actions have included community cooking while calling for better policies, gathering over traditional fruit salad (rujak) to campaign for ending violence against women, poetry reading, jamming sessions and open mic. Tata said it’s not simply about changing the format of demonstrations but creating welcoming spaces where people can participate regardless of their backgrounds.

Bara Puan was established in 2024 to build safe and inclusive spaces where women could share experiences, learn from one another, and advocate for women's rights and justice, with focus on economic, social, political and cultural issues. Bara means glowing embers, while puan is derived from the Indonesian word for woman. Together, the name represents the hope of inspiring more women to speak up and take collective action.

Nurturing knowledge and building solidarity through care

Bara Puan regularly organizes learning session workshops and discussions on various topics to share the knowledge and lived experiences of grass-roots women. Through initiatives such as Camping Rimpang Alit, a camping retreat that combines discussions, education and reflection, the collective brings together young women to deepen their understanding of gender equality and strengthen leadership skills.

Bara Puan activists also travel across Central Java to join other civil society organizations, supporting women communities, protesting and demanding action for labour rights, land rights, and environmental justice.

"We really want to mobilize and empower women, whether on university campuses, within organizations, or in grass-roots communities. We want to help build critical awareness so that we can collectively fight for gender equality and women's rights, while standing in solidarity with one another," Tata said.

Over the past year, Bara Puan learned that sustaining a movement requires care.

In 2025, following a challenging period of heightened pressures on civic engagement, Bara Puan members found themselves spending as much time supporting fellow activists, both within the collective and in other organizations, as they did organizing activities. Some experienced trauma, while others stepped back from public engagement because of safety concerns. One outcome was Sepiring Resep Bertahan (A Plate of Recipes for Resilience), a publication of stories and reflections on navigating difficult times.

Expanding networks to strengthen women’s movement

In 2025, Bara Puan participated in the UN Women's launch of the Indonesian Civil Society Organization Network on Women, Peace and Security, where they exchanged experiences with women's organizations from across Indonesia. The opportunity aligned with Bara Puan’s aspiration to build stronger networks with women and grass-roots movements working towards the same goals.

Bara Puan aims to expand its network beyond Semarang. At the same time, Bara Puan continues to sustain its programmes and expand initiatives, including the Women's Movement Symposium later this year.

 

English | Bahasa Indonesia

Perempuan Muda Bergabung dalam Aktivisme Kolektif di Indonesia

Untuk memperingati Hari Orang Muda Internasional 2026, UN Women Indonesia menampilkan profil organisasi-organisasi orang muda yang tergabung dalam jejaring UN Women Indonesia.

Author: Radhiska Anggiana

A group of women poses in a wooden pavilion while displaying colorful hand-drawn portraits. Sekelompok perempuan berpose di pendopo kayu sambil menunjukkan potret warna-warni hasil karya mereka.
Peserta berbagi ilustrasi hasil sesi interseksionalitas dalam aksi kolektif pada kegiatan “Camping Rimpang Alit Jilid III”, sebuah ruang bagi perempuan muda untuk memperdalam pemahaman tentang kesetaraan gender dan memperkuat keterampilan kepemimpinan, yang diselenggarakan di Kopeng, Salatiga, pada 20 Juni 2026. Foto: Bara Puan

JAKARTA, Indonesia - Di depan gedung pemerintahan di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, sewajan tempe yang sedang digoreng, berdampingan dengan selebaran poster aksi. Tidak jauh dari sana, seorang mahasiswa terlihat sedang memotong sayuran, sementara seorang jurnalis tengah menyusun kemasan makanan. Ini bukan kelas memasak; ini adalah aksi unjuk rasa.

"Demonstrasi biasanya identik dengan berteriak di atas mobil. Tapi kemudian kami berusaha memikirkan diversifikasi aksi seperti apa yang kemudian bisa dilakukan," kata Annisa Paramitha (Tata), mahasiswa hubungan internasional berusia 21 tahun dan Koordinator Aksi Bara Puan, kolektif perempuan muda di Semarang.

Aksi-aksi yang beragam ini mencakup memasak bersama komunitas sambil menyerukan kebijakan yang lebih baik, berkumpul sambil menikmati rujak untuk mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, pembacaan puisi, sesi jamming musik, dan open mic. Tata mengatakan hal ini bukan sekadar mengubah format demonstrasi, melainkan menciptakan ruang agar semua orang dengan berbeda latar belakang dapat berpartisipasi.

Bara Puan didirikan pada 2024 untuk membangun ruang yang aman dan inklusif, tempat perempuan dapat berbagi pengalaman, saling belajar, dan memperjuangkan hak-hak perempuan serta keadilan, dengan fokus pada isu ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Bara berarti arang yang menyala, sementara puan berasal dari kata dalam bahasa Indonesia yang berarti perempuan. Nama ini merepresentasikan harapan untuk menginspirasi lebih banyak perempuan agar berani bersuara dan mengambil aksi kolektif.

Memupuk pengetahuan dan membangun solidaritas melalui perawatan

Bara Puan secara rutin menyelenggarakan lokakarya pembelajaran dan diskusi mengenai berbagai topik untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup perempuan akar rumput. Melalui inisiatif seperti Camping Rimpang Alit, sebuah kegiatan berkemah yang memadukan diskusi, edukasi, dan refleksi, Bara Puan mempertemukan perempuan-perempuan muda untuk memperdalam pemahaman mereka tentang kesetaraan gender dan memperkuat kepemimpinan.

Para aktivis Bara Puan juga berkeliling Jawa Tengah untuk bergabung dengan organisasi masyarakat sipil lainnya, mendukung komunitas perempuan, berunjuk rasa, dan menuntut pemenuhan hak-hak buruh, hak atas tanah, serta keadilan lingkungan.

"Kami sangat ingin untuk menggerakkan dan memperkuat perempuan, baik di ranah kampus, di ranah organisasi, maupun di komunitas akar rumput. Kami ingin membantu membangun kesadaran kritis agar kita bisa bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, sambil saling mendukung dan bersolidaritas," kata Tata.

Sepanjang tahun lalu, Bara Puan belajar bahwa mempertahankan sebuah gerakan membutuhkan perawatan atau care.

Pada 2025, setelah periode yang penuh tantangan akibat meningkatnya tekanan terhadap gerakan masyarakat sipil, para anggota Bara Puan mendapati diri mereka menghabiskan waktu yang hampir sama banyaknya untuk mendukung sesama aktivis, baik di dalam kolektif maupun di organisasi lain, seperti halnya waktu yang mereka gunakan untuk menyelenggarakan kegiatan. Sebagian mengalami trauma, sementara yang lain menarik diri karena alasan keamanan. Salah satu hasil dari mendokumentasikan pengalaman ini adalah “Sepiring Resep Bertahan”, sebuah publikasi berisi cerita dan refleksi tentang menjalani dan cara bertahan di masa-masa sulit.

Memperluas jaringan untuk memperkuat gerakan perempuan

Pada 2025, Bara Puan berpartisipasi dalam peluncuran Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan oleh UN Women, di mana mereka bertukar pengalaman dengan organisasi-organisasi perempuan dari seluruh Indonesia. Kesempatan ini selaras dengan aspirasi Bara Puan untuk membangun jejaring yang lebih kuat dengan gerakan perempuan dan gerakan akar rumput yang memperjuangkan tujuan yang sama.

Bara Puan berupaya memperluas jaringannya hingga ke luar Semarang. Pada saat yang sama, Bara Puan terus memperkuat program-programnya dan melakukan berbagai inisiatif, termasuk Simposium Gerakan Perempuan yang akan diselenggarakan tahun ini.