In the words of Seulah Park: “Coming together to create meaningful change and shape a better future”

Date:

Author: Seulah Park*

English | Bahasa Indonesia

"I’d like to share a vivid account of a transformative journey that expands women’s participation, strengthens the capacities of youth and community members, and brings change to village planning, budgeting and disaster preparedness."

It’s from the “Empowered Women for Sustainable Peace” (WE NEXUS) project, led by UN Women and funded by the Korea International Cooperation Agency (KOICA), which works to strengthen the Humanitarian–Development–Peace Nexus and community resilience in three Indonesian provinces - East Nusa Tenggara (NTT), West Nusa Tenggara (NTB), and Central Sulawesi. These communities face overlapping challenges, including disasters and conflict. We, at Save the Children, are implementing this project in NTT alongside CIS Timor.

East Nusa Tenggara: Where climate, poverty and conflict intersect

In NTT, recurring droughts and extreme climate conditions bring frequent crop failures and losses. As poverty deepens, livelihoods become increasingly unstable, affecting households and entire communities. As competition grows over essential resources such as land and water, tensions can rise, leaving communities more exposed to conflict.

Repeated disasters and conflict-related displacement put women and children in more vulnerable situations. As livelihoods collapse, the burden of care and survival increases. When protection systems weaken, the risks of violence and exploitation also grow. In contexts where conflict persists, women’s participation and decision-making roles are often further limited.

The WE NEXUS project began with the belief that women and youth are key actors who lead recovery and peace by coming together to create meaningful change and shape a better future.

MKP: Creating space for women’s voices

While Indonesia has policies that guarantee women’s participation in community development, having a legal foundation does not always translate into meaningful participation. Even when women attend meetings, they are often left out of key decision-making discussions.

Community members gather around a table indoors, reviewing a hand‑drawn map. Several people point to marked areas on the map while others observe and take notes. The activity appears to support collective discussion and planning around community risks and vulnerable areas in East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo: Save the Children.

MKP members develop maps on vulnerable areas in NTT. Photo: Save the Children

To address this, the WE NEXUS project focuses on strengthening the Musyawarah Khusus Perempuan (MKP), or Special Consultative Meeting for Women.

Through MKPs, women come together to identify and prioritize issues in their communities and make proposals in village meetings. Women share their lived experiences and challenges, which become the foundation for influencing village planning. MKP supports women not only to participate, but to take on active roles in decision-making.

MKP members discuss village improvements at a village women meeting in NTT. Photo: Save the Children

Since the project began, MKP proposals have started to be reflected in village development plans, and discussions on preventing violence have increased. MKP is no longer just about expanding participation. It is gradually building more inclusive and equal communities.

SEKOPER: A Space to learn, speak and lead

SEKOPER, or Women’s School, provides a learning space where women can come together, share experiences and support one another in growing as leaders in their communities.

In each village, discussions regularly address issues closely connected to everyday life, such as gender equality, women’s rights, sexual and reproductive health and rights, economic cooperation and childcare.

In NTT, where many women have limited access to information on violence and response systems, and where social norms can make it difficult for women to speak out, SEKOPER helps women better understand their rights, build confidence and recognize the importance of participating in decision-making.

Community members sit in small groups on the floor inside a meeting room, working together on large sheets of paper. Some participants write or point to notes while others listen and observe. Chairs and documents are visible around the room, supporting a participatory discussion focused on community planning in East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo: Save the Children.

Village members engage in a group discussion at a SEKOPER (Women’s School) in NTT. Photo: Save the Children

SEKOPER is a space where change begins. It has also been formally recognized by village governments and relevant institutions, supporting its sustainability.

As one participant told me: “SEKOPER not only builds knowledge but brings change. It strengthens leadership and builds the courage to speak out.”

Growing - and changing - together

When women come together to learn, speak and act, entire communities can move towards greater equality and resilience. The changes taking root in NTT are like seeds - small but growing. With continued support and attention, these seeds can help women strengthen their voices, embrace active roles in their communities and prepare for future challenges.

Seulah Park is a Senior Program Officer at Save the Children Korea. This story is adapted from an original story published on the Save the Children Korea website.

 

In the words of Seulah Park: “Bersatu untuk menciptakan perubahan yang bermakna dan membentuk masa depan yang lebih baik”

Tanggal: Rabu, 29 April 2026

Author: Seulah Park*

English | Bahasa Indonesia

"Saya ingin berbagi kisah nyata tentang perjalanan transformatif yang memperluas partisipasi perempuan, memperkuat kapasitas orang muda dan anggota masyarakat, serta membawa perubahan pada perencanaan desa, penganggaran, dan kesiapsiagaan bencana."

Ini berasal dari proyek “Pemberdayaan Perempuan untuk Perdamaian Berkelanjutan” (WE NEXUS), yang diinisiasi oleh UN Women dan didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA), berupaya memperkuat Nexus Kemanusiaan–Pembangunan–Perdamaian dan ketahanan masyarakat di tiga provinsi Indonesia - Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Tengah. Kelompok masyarakat ini menghadapi tantangan yang saling tumpang tindih, termasuk bencana dan konflik. Kami, di Save the Children, melaksanakan proyek ini di NTT bersama CIS Timor.

Nusa Tenggara Timur: Tempat bertemunya iklim, kemiskinan, dan konflik

Di NTT, kekeringan yang berulang dan kondisi iklim ekstrem menyebabkan seringnya gagal panen dan kerugian. Seiring dengan semakin dalamnya kemiskinan, mata pencaharian menjadi semakin tidak stabil, yang memengaruhi rumah tangga dan seluruh komunitas. Ketika persaingan untuk memperebutkan sumber daya penting seperti tanah dan air meningkat, ketegangan dapat meningkat, membuat komunitas lebih rentan terhadap konflik.

Bencana berulang dan pengungsian akibat konflik menempatkan perempuan dan anak-anak dalam situasi yang lebih rentan. Ketika mata pencaharian runtuh, beban pengasuhan dan kelangsungan hidup meningkat. Ketika sistem perlindungan melemah, risiko kekerasan dan eksploitasi juga meningkat. Dalam konteks di mana konflik berlanjut, partisipasi dan peran pengambilan keputusan perempuan seringkali semakin terbatas.

Proyek WE NEXUS dimulai dengan keyakinan bahwa perempuan dan orang muda adalah aktor kunci yang memimpin pemulihan dan perdamaian dengan bersatu untuk menciptakan perubahan yang bermakna dan membentuk masa depan yang lebih baik.

MKP: Menciptakan ruang bagi suara perempuan

Meskipun Indonesia memiliki kebijakan yang menjamin partisipasi perempuan dalam pembangunan masyarakat, landasan hukum tidak selalu berarti partisipasi yang bermakna. Bahkan ketika perempuan menghadiri pertemuan, mereka seringkali tidak dilibatkan dalam diskusi pengambilan keputusan penting.

Community members gather around a table indoors, reviewing a hand‑drawn map. Several people point to marked areas on the map while others observe and take notes. The activity appears to support collective discussion and planning around community risks and vulnerable areas in East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo: Save the Children.

Anggota MKP membuat peta wilayah rawan di NTT. Foto: Save the Children

Untuk mengatasi hal ini, proyek WE NEXUS berfokus pada penguatan Musyawarah Khusus Perempuan (MKP).

Melalui MKP, perempuan berkumpul untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan isu-isu di komunitas mereka serta mengajukan usulan dalam pertemuan desa. Perempuan berbagi pengalaman dan tantangan hidup mereka, yang menjadi dasar untuk memengaruhi perencanaan desa. MKP mendukung perempuan tidak hanya untuk berpartisipasi, tetapi juga untuk mengambil peran aktif dalam pengambilan keputusan.

Community members sit around a table indoors, reviewing documents together. One person writes notes on paper while others look on and point to the materials. The group appears engaged in a collaborative discussion related to community planning or decision‑making. Photo: Save the Children

Para anggota MKP membahas perbaikan desa dalam pertemuan perempuan desa di NTT. Foto: Save the Children

Sejak proyek ini dimulai, usulan MKP mulai tercermin dalam rencana pembangunan desa, dan diskusi tentang pencegahan kekerasan pun meningkat. MKP bukan lagi hanya tentang memperluas partisipasi. Ini secara bertahap membangun komunitas yang lebih inklusif dan setara.

SEKOPER: Ruang untuk belajar, berbicara, dan memimpin

SEKOPER, atau Sekolah Perempuan, menyediakan ruang belajar di mana perempuan dapat berkumpul, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dalam mengembangkan diri sebagai pemimpin di komunitas mereka.

Di setiap desa, diskusi secara rutin membahas isu-isu yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kesetaraan gender, hak-hak perempuan, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, kerja sama ekonomi, dan perawatan anak.

Di NTT, di mana banyak perempuan memiliki akses terbatas terhadap informasi tentang kekerasan dan sistem penanggulangan, dan di mana norma-norma sosial dapat mempersulit perempuan untuk bersuara, SEKOPER membantu perempuan untuk lebih memahami hak-hak mereka, membangun kepercayaan diri, dan menyadari pentingnya berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Community members sit in small groups on the floor inside a meeting room, working together on large sheets of paper. Some participants write or point to notes while others listen and observe. Chairs and documents are visible around the room, supporting a participatory discussion focused on community planning in East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo: Save the Children.

Warga desa mengikuti diskusi kelompok di SEKOPER (Sekolah Perempuan) di NTT. Foto: Save the Children

SEKOPER adalah ruang tempat perubahan dimulai. Ruang ini juga telah diakui secara resmi oleh pemerintah desa dan lembaga terkait, sehingga mendukung keberlanjutannya.

Seperti yang dikatakan salah satu peserta kepada saya: “SEKOPER tidak hanya membangun pengetahuan tetapi juga membawa perubahan. Program ini memperkuat kepemimpinan dan membangun keberanian untuk bersuara.”

Tumbuh - dan berubah - bersama

Ketika perempuan berkumpul untuk belajar, berbicara, dan bertindak, seluruh komunitas dapat bergerak menuju kesetaraan dan ketahanan yang lebih besar. Perubahan yang berakar di NTT seperti benih – kecil tetapi tumbuh. Dengan dukungan dan perhatian yang berkelanjutan, benih-benih ini dapat membantu perempuan memperkuat suara mereka, merangkul peran aktif dalam komunitas mereka, dan mempersiapkan diri untuk tantangan di masa depan.

Seulah Park adalah Petugas Program Senior di Save the Children Korea. Cerita ini diadaptasi dari cerita asli yang diterbitkan di situs web Save the Children Korea.