Suara dari Febrianti: "Dulu saya takut untuk berbicara. Kini, saya membantu perempuan lain menemukan suara mereka."
Tanggal: Jumat, 4 September 2026
Oleh: Portray Stories

Dulu, ia ragu untuk berbicara dalam pertemuan desa, Febrianti kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), memimpin sekitar 25 perempuan untuk belajar mengelola keuangan sekaligus menciptakan ruang yang aman bagi perempuan untuk tumbuh dan berkembang bersama di Desa Ramba, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Melalui proyek WE NEXUS yang didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) dan dilaksanakan oleh UN Women bersama Yayasan CARE Peduli dan Karsa Institute, ia memperkuat kepercayaan diri, kemampuan kepemimpinan, dan keterampilan pengelolaan keuangannya. Kini, ia mendampingi perempuan untuk membangun ketangguhan ekonomi melalui KUEP, sekaligus turut menciptakan komunitas di mana perempuan dan anak-anak mendapatkan perlindungan yang lebih baik, serta perempuan memiliki suara yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan di desa.
“There was a time when I believed my role was simply to sit quietly and listen.
“Ada suatu masa ketika saya percaya bahwa peran saya hanyalah duduk diam dan mendengarkan.
Setiap kali menghadiri pertemuan desa, saya sering memiliki gagasan yang ingin saya sampaikan, tetapi saya takut untuk berbicara. Saya khawatir pendapat saya salah atau tidak akan dianggap serius oleh orang lain. Banyak perempuan di desa saya merasakan hal yang sama. Kami bekerja keras untuk keluarga, tetapi ketika keputusan dibuat, suara kami jarang didengar.
Kehidupan di Ramba tidak selalu mudah. Sebagian besar keluarga bergantung pada pertanian, dan ketika banjir atau gagal panen mengurangi pendapatan, perempuan sering kali menjadi pihak yang berusaha mengatur setiap rupiah agar tetap ada makanan di meja dan anak-anak dapat terus bersekolah. Terkadang, keluarga tidak punya pilihan selain meminjam uang dari Bank Emok, layanan pinjaman informal yang sering menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi, sehingga menambah tekanan dalam rumah.

Semuanya mulai berubah ketika saya mengikuti serangkaian pelatihan tentang kepemimpinan, berbicara di depan umum, kesetaraan gender, kesiapsiagaan bencana, dan literasi keuangan yang diselenggarakan oleh Yayasan CARE Peduli dan Karsa Institute. Pengalaman tersebut tidak hanya mengajarkan saya keterampilan baru. Pelatihan-pelatihan itu mengubah cara saya melihat diri sendiri. Saya menjadi lebih percaya diri, lebih berani berbicara, dan semakin terdorong untuk mengajak perempuan-perempuan lain percaya pada suara mereka.
Hari ini, saya memimpin KUEP di desa kami. Bersama-sama, kami menciptakan ruang di mana perempuan dapat menabung, mengakses pinjaman tanpa bunga, dan saling mendukung di masa-masa sulit. Hal ini sangat penting bagi perempuan petani. Setelah panen, ketika mereka memiliki pendapatan lebih, banyak dari mereka memilih untuk menabung melalui KUEP. Tabungan tersebut dapat menjadi jaring pengaman ketika banjir melanda, karena petani sering kali menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak dan bahkan dapat kehilangan seluruh hasil panen. Bagi kami, ketangguhan dibangun dengan mempersiapkan diri bersama, langkah demi langkah.
Desa kami juga telah berubah. Sejak Ramba menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), semakin banyak perempuan yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di desa. Mekanisme di tingkat masyarakat seperti jejaring PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat), juga memberikan ruang bagi perempuan dan anak untuk mencari dukungan ketika mengalami kekerasan. Perubahan-perubahan ini menunjukkan kepada kami bahwa melindungi perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi merupakan sesuatu yang dapat diupayakan bersama oleh seluruh masyarakat.
Ketika melihat kembali perjalanan saya, saya bangga dengan sejauh mana saya telah berkembang. Dulu, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang terlalu takut untuk berbicara di depan umum. Kini, saya dipercaya untuk memimpin KUEP, menjadi ketua koperasi desa, dan turut berkontribusi dalam perencanaan pembangunan desa. Bagi saya, ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa takut atau menghadapi kesulitan. Ketangguhan adalah memilih untuk terus melangkah, belajar dari setiap tantangan, dan membantu perempuan lain menyadari bahwa mereka juga mampu menjadi bagian dari perubahan.