In the words of Febrianti: “I used to be afraid to speak. Now I help other women find their voices”

Date:

Author: Portray Stories

A woman wearing a brown headscarf and black long-sleeved shirt stands outdoors in a green village area. She faces the camera, with trees, plants and a fence softly blurred in the background.

Febrianti is a member of the women’s group in Ramba Village, 3 July 2026. Photo: UN Women/Portray Stories

English | Bahasa Indonesia

Once hesitant to speak during village meetings, Febrianti now serves as Chair of the Women’s Economic Business Group Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), leading around 25 women in learning to manage their finances and creating a safe space for women to grow hand-in-hand in Ramba Village, Central Sulawesi, Indonesia. Through the WE NEXUS project, funded by the Korea International Cooperation Agency (KOICA) and implemented by UN Women with Yayasan CARE Peduli and Karsa Institute, she strengthened her confidence, leadership and financial management skills. Today, she supports women to build economic resilience through KUEP while helping create a community where women and children are better protected and women have a stronger voice in village decision-making.

“There was a time when I believed my role was simply to sit quietly and listen.

Whenever I attended village meetings, I often had ideas I wanted to share, but I was afraid to speak out. I worried my opinion would be wrong or that no one would take it seriously. Many women in my village felt the same way. We worked hard for our families, but when decisions were made, our voices were rarely heard.

Life in Ramba is not always easy. Most families depend on farming, and when floods or failed harvests reduce our income, women are often the ones trying to stretch every rupiah to make sure there is still food on the table and children can continue going to school. Sometimes families have no choice but to borrow money from Bank Emok, an informal lending service often offering loans at high interest rates, creating even more pressure at home.

Febrianti sits with other women on a wooden platform outside a house in Ramba Village. They are talking and smiling together while a child stands nearby. Green plants and village houses can be seen around them.

Febrianti spends time with women in her community in Ramba Village, 2 July 2026. Photo: UN Women/Portray Stories

Everything began to change when I joined a series of trainings on leadership, public speaking, gender equality, disaster preparedness and financial literacy from Yayasan CARE Peduli and Karsa Institute. Those experiences did not only teach me new skills. They changed how I saw myself. I became more confident, more willing to speak and more determined to encourage other women to believe in their voices.

Today, I lead our village’s KUEP. Together, we have created a place where women can save money, access interest-free loans, and support one another during difficult times. This is especially important for women farmers. After the harvest, when they have more income, many choose to save through KUEP. These savings can provide a safety net when floods hit, as farmers are often among the hardest affected and can even lose an entire harvest. For us, resilience is built by preparing together, one small step at a time.

Our village has also changed. Since Ramba became a ‘Women-Friendly and Child-Caring Village’, more women have been involved in village planning and decision-making. Mechanisms such as Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat – a community-based integrated child protection network – have also provided women and children with a place to seek support when they experience violence. These changes have shown us that protecting women and children is not only the responsibility of individuals, but it is something a whole community can work towards together.

Looking back, I am proud of how far I have come. I was once a housewife who was too afraid to speak in public. Today, I have been entrusted to lead KUEP, chair the village cooperative and contribute to village development planning. For me, resilience is not about never facing fear or hardship. It is about choosing to keep moving forward, learning from every challenge and helping other women realize that they, too, are capable of leading change.”

 

Suara dari Febrianti: "Dulu saya takut untuk berbicara. Kini, saya membantu perempuan lain menemukan suara mereka."

Tanggal: Jumat, 4 September 2026

Oleh: Portray Stories

A woman wearing a brown headscarf and black long-sleeved shirt stands outdoors in a green village area. She faces the camera, with trees, plants and a fence softly blurred in the background.

Febrianti adalah anggota kelompok perempuan di Desa Ramba, 3 Juli 2026. Foto: UN Women/Portray Stories

English | Bahasa Indonesia

Dulu, ia ragu untuk berbicara dalam pertemuan desa, Febrianti kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), memimpin sekitar 25 perempuan untuk belajar mengelola keuangan sekaligus menciptakan ruang yang aman bagi perempuan untuk tumbuh dan berkembang bersama di Desa Ramba, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Melalui proyek WE NEXUS yang didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) dan dilaksanakan oleh UN Women bersama Yayasan CARE Peduli dan Karsa Institute, ia memperkuat kepercayaan diri, kemampuan kepemimpinan, dan keterampilan pengelolaan keuangannya. Kini, ia mendampingi perempuan untuk membangun ketangguhan ekonomi melalui KUEP, sekaligus turut menciptakan komunitas di mana perempuan dan anak-anak mendapatkan perlindungan yang lebih baik, serta perempuan memiliki suara yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan di desa.

“There was a time when I believed my role was simply to sit quietly and listen.

“Ada suatu masa ketika saya percaya bahwa peran saya hanyalah duduk diam dan mendengarkan.

Setiap kali menghadiri pertemuan desa, saya sering memiliki gagasan yang ingin saya sampaikan, tetapi saya takut untuk berbicara. Saya khawatir pendapat saya salah atau tidak akan dianggap serius oleh orang lain. Banyak perempuan di desa saya merasakan hal yang sama. Kami bekerja keras untuk keluarga, tetapi ketika keputusan dibuat, suara kami jarang didengar.

Kehidupan di Ramba tidak selalu mudah. Sebagian besar keluarga bergantung pada pertanian, dan ketika banjir atau gagal panen mengurangi pendapatan, perempuan sering kali menjadi pihak yang berusaha mengatur setiap rupiah agar tetap ada makanan di meja dan anak-anak dapat terus bersekolah. Terkadang, keluarga tidak punya pilihan selain meminjam uang dari Bank Emok, layanan pinjaman informal yang sering menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi, sehingga menambah tekanan dalam rumah.

Febrianti sits with other women on a wooden platform outside a house in Ramba Village. They are talking and smiling together while a child stands nearby. Green plants and village houses can be seen around them.

Febrianti menghabiskan waktu bersama para perempuan di komunitasnya di Desa Ramba, 2 Juli 2026. Foto: UN Women/Portray Stories

Semuanya mulai berubah ketika saya mengikuti serangkaian pelatihan tentang kepemimpinan, berbicara di depan umum, kesetaraan gender, kesiapsiagaan bencana, dan literasi keuangan yang diselenggarakan oleh Yayasan CARE Peduli dan Karsa Institute. Pengalaman tersebut tidak hanya mengajarkan saya keterampilan baru. Pelatihan-pelatihan itu mengubah cara saya melihat diri sendiri. Saya menjadi lebih percaya diri, lebih berani berbicara, dan semakin terdorong untuk mengajak perempuan-perempuan lain percaya pada suara mereka.

Hari ini, saya memimpin KUEP di desa kami. Bersama-sama, kami menciptakan ruang di mana perempuan dapat menabung, mengakses pinjaman tanpa bunga, dan saling mendukung di masa-masa sulit. Hal ini sangat penting bagi perempuan petani. Setelah panen, ketika mereka memiliki pendapatan lebih, banyak dari mereka memilih untuk menabung melalui KUEP. Tabungan tersebut dapat menjadi jaring pengaman ketika banjir melanda, karena petani sering kali menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak dan bahkan dapat kehilangan seluruh hasil panen. Bagi kami, ketangguhan dibangun dengan mempersiapkan diri bersama, langkah demi langkah.

Desa kami juga telah berubah. Sejak Ramba menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), semakin banyak perempuan yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di desa. Mekanisme di tingkat masyarakat seperti jejaring PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat), juga memberikan ruang bagi perempuan dan anak untuk mencari dukungan ketika mengalami kekerasan. Perubahan-perubahan ini menunjukkan kepada kami bahwa melindungi perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi merupakan sesuatu yang dapat diupayakan bersama oleh seluruh masyarakat.

Ketika melihat kembali perjalanan saya, saya bangga dengan sejauh mana saya telah berkembang. Dulu, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang terlalu takut untuk berbicara di depan umum. Kini, saya dipercaya untuk memimpin KUEP, menjadi ketua koperasi desa, dan turut berkontribusi dalam perencanaan pembangunan desa. Bagi saya, ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa takut atau menghadapi kesulitan. Ketangguhan adalah memilih untuk terus melangkah, belajar dari setiap tantangan, dan membantu perempuan lain menyadari bahwa mereka juga mampu menjadi bagian dari perubahan.