Suara dari Novi Rahmanita: “Aksi-aksi kecil dapat tumbuh menjadi perubahan yang bertahan lama.”
Tanggal: Jumat, 4 September 2026
Oleh: Portray Stories

Tumbuh besar di Desa Ncera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Novi Rahmanita mengalami secara langsung bagaimana perubahan iklim dan kesulitan ekonomi memengaruhi kehidupan keluarga petani. Kini, ia menjabat sebagai Bendahara Sakola Ndai, sebuah kelompok perempuan yang merupakan singkatan dari Sekolah Kolaboratif dan Literasi Ncera Damai Aman dan Inspiratif. Bersama tujuh perempuan lainnya, ia mendampingi anak-anak dari keluarga petani migran sekaligus mendorong perempuan untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam kehidupan masyarakat. Melalui proyek WE NEXUS yang didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) dan dilaksanakan oleh UN Women bersama Wahid Foundation, La Rimpu, dan LP2DER, Novi memperkuat kemampuan kepemimpinan dan kepercayaan dirinya untuk turut menciptakan perubahan positif di desanya.
“Saya tumbuh sebagai anak dari keluarga petani migran, jadi saya tahu bagaimana rasanya berbulan-bulan hidup tanpa kehadiran orang tua di sisi kita. Mereka pergi karena ingin memberikan masa depan yang lebih baik bagi kami, tetapi kepergian mereka juga berarti banyak anak tumbuh tanpa perhatian dan pendampingan yang mereka butuhkan setiap hari.
Perubahan iklim telah mengubah segalanya. Sungai yang dulu mengalir sepanjang tahun kini mengering, banyak lahan persawahan menjadi tidak produktif, dan hasil panen tidak lagi dapat diandalkan. Saat ini, hampir 70 persen keluarga di desa saya bekerja sebagai petani migran. Para orang tua meninggalkan rumah selama berbulan-bulan untuk mencari nafkah, sementara banyak anak tetap tinggal bersama kakek-nenek, kerabat, atau tetangga.
Melihat kenyataan tersebut membuat saya bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa kami, sebagai perempuan, dapat lakukan.

Ketika saya mengikuti pelatihan kepemimpinan dan pengorganisasian masyarakat dari Wahid Foundation dan La Rimpu, saya menyadari bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari aksi besar. Terkadang, perubahan dimulai dari sebuah percakapan, dari mendengarkan orang lain, atau sekadar memiliki keberanian untuk memulai sesuatu yang baru. Bersama perempuan-perempuan lainnya, kami membentuk Sakola Ndai dan menciptakan ruang belajar yang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan mendapatkan perlindungan selama orang tua mereka pergi.
Awalnya tidak mudah. Terkadang hanya ada dua atau tiga anak yang datang. Banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan ponsel mereka, dan ada kalanya saya bertanya-tanya apakah kami harus berhenti. Namun, kemudian saya teringat pada anak-anak yang tidak memiliki siapa pun yang menunggu mereka di rumah. Jika kami menyerah, siapa yang akan melanjutkannya?
Apa yang kami lakukan juga menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lainnya. Perempuan mulai berpartisipasi lebih aktif dalam diskusi mengenai berbagai persoalan di masyarakat. Kami menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan, saling mendukung, dan bekerja sama untuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi desa kami. Saya belajar bahwa ketangguhan tidak dibangun seorang diri—ketangguhan tumbuh melalui kepercayaan, kerja sama, dan kemauan untuk terus hadir dan saling mendukung.
Hari ini, melihat anak-anak menjadi lebih percaya diri, lebih sabar, dan lebih mau belajar mengingatkan saya mengapa kami memulai semua ini. Ketika melihat kembali perjalanan kami, saya menyadari bahwa ketangguhan bukan tentang bergerak dengan cepat atau tidak pernah mengalami kemunduran. Ketangguhan adalah tentang menolak untuk menyerah, bahkan ketika kemajuan terasa begitu lambat. Terkadang, berjalan perlahan lebih baik daripada harus berhenti sama sekali.
Saya berharap setiap anak di desa kami tumbuh dengan mengetahui bahwa mereka didukung, dan setiap perempuan percaya bahwa suara mereka berarti. Karena ketika perempuan bersatu untuk saling menjaga dan menjaga komunitas mereka, aksi-aksi kecil dapat tumbuh menjadi perubahan yang bertahan lama.”